Kita tak perlu minder, dalam persoalan “emansipasi” terutama perempuan, Indonesia terlebih dulu dibandingkan negara-negara eropa. Ratu Sima, adalah salah satunya, ratu yang mampu memimpin rakyat yang dengan budaya patriarki. Kala itu Perancis malah memancung Joan of Arc, yang nota bene pejuang yang membela negaranya dalam perang melawan Inggris. Kita juga punya Ratu Kali Nyamat, pada masa Demak berjaya, dia membela kehormatannya di kalangan laki-laki.
Dia salah satu wanita yang sangat kritis atas pandangan masyarakat yang cenderung terhadap nilai-nilai konservatif, walau belum secara jelas bicara tentang nasionalisme. Kemudian Cut Nyakdin tokoh perempuan dari Aceh yang sampai tua hingga meningal terus berjuang mempertahankan tabah air dari penjajah Belanda. Baru tahun Pada April 1911 terbit sebuah buku di Negara Belanda Door Duisterbis tot Licgh (Habis Gelap Terbitlah Terang). Buku putih dari R.A Kartini seorang wanita kelahiran Kota Rembang Jawa Tengah. Walau usianya tidak sampai setengah abat namun ide-ide dan pemikiran seorang Wanita pertama di Indonesia sangat inspiratif baik bagi kaum wanita sendiri juga kaum pria.
Membangun bangsa tidak bisa dilakukan hanya oleh seorang laki-laki. Peranan wanita sangat signifikan sekali dalam membangun sumberdaya manusia.
R.A. Kartini merupakan tokoh penting dalam sejarah kelahiran Emansipasi Wanita dalam Negara kita Indonesia, yang kemudian melahirkan istilah kesetaraan gender. Kesetaraan Gender? Meaningly, hal ini bermakna tentang kesetaraan atau persamaan peran antara kaum wanita dan kaum pria dalam berbagai hal. Yang paling menonjol memang dalam hal pekerjaan. Dahulu kala di mana seorang wanita yang kodratnya berada di bawah pria, sangat jarang di antara mereka yang mendapatkan pendidikan tinggi dan perlakuan yang layak. Karena berdasarkan pemikiran kuno, wanita hanya cukup berada di rumah mengurus dapur, merawat dan melayani suami serta putra-putrinya. Sangat tabu bagi wanita untuk lama-lama berada diluar rumah, apalagi menjadi seorang pemimpin. Tapi sekarang, seiring semakin kerasnya genderang keseteraan gender ini, semakin kuat pula pemikiran itu didobrak habis. Di mana para wanita berlomba untuk mendapatkan pengakuan atas kemampuanya di dalam berbagai bidang, di mana para ibu rumah tangga yang menjadikan pekerjaan rumah tangganya sebagai pekerjaan sampingan atas posisi mereka di luar sana. Dan semua itu memang mereka lalui dengan proses yang sama yang bisa diperoleh oleh kaum pria.
Misalnya dengan menempuh pendidikan yang tidak jarang juga cukup berkompeten, atau mungkin dengan pembekalan skill melalui kursus-kursus singkat. Dari situ, kaum wanita mulai merasa memiliki kemampuan yang tidak kalah dengan kaum pria. Mereka pun mulai bersaing tidak hanya dengan kaum wanita lagi, namun mereka telah mulai berani untuk bersaing dengan kaum pria dalam mendapatkan posisi yang sama. Setelah mereka mendapatkan jalan untuk mencapai obsesi mereka, mereka semakin termotivasi untuk medapatkan sesuatu yang lebih, lebih dan lebih. Karirpun mulai menanjak, kodrat pun juga semakin dilupakan. Tak jarang kaum wanita yang teracuni ego ambisiusnya, akan mencoba untuk menghalalkan berbagai cara demi tercapainya obsesi mereka, bahkan bermain-main dengan norma serta prinsip-prinsip spiritualis.
Akan tetapi, pada sisi yang lain, Penyetaraan Gender ini juga mampu menjadi cambuk bagi kaum wanita. Pasalnya, ketika si wanita yang sudah asyik dengan prestasinya., asyik dengan pekerjaannya, merasa dirinya berada di atas sang suami, entah jabatan atau mungkin penghasilan. Kemudian mereka mulai merasa mampu untuk membiayai apapun dengan uangnya, mereka lupa akan keberadaan sang suami yang pada dasarnya berkewajiban unuk membiayai semua kebutuhan keluarganya. Lalu apa yang terjadi? Sang suami mulai tidak dihargai lagi, pertengkaran demi pertengkaran pun mulai dikumandangkan. Sampai pada satu titik kejenuhan yang merujuk pada percerain. Atau mungkin tidak terjadi perceraian, akan tetapi eksploitasi pada kaum wanita malah terjadi di dalam rumahnya sendiri. Dimana sang istri bekerja membanting tulang, sedangkan sang suami hanya berada dirumah dan bersenag-senang dengan keringat sang istri.
Malang, 5 Mei 2007,
Tidak ada komentar:
Posting Komentar