Tampak anak-anak an perempuan dari keluarga
Juru Kunci Makam Kartini. Suasana lengang mengingat bukan bulan peringatan hari Kartini dan juga semakin rendah dan menurunnya minat para wisata dan pemerhati sejarah di makam RA Kartini.
Mengenang Kartini berarti mengenang perjuangan sesosok perempuan lokal melawan tirani budaya yang feodalistis dan hegemonis. Mengenang Kartini juga mengingatkan sejumput cita kesetaraan laki-laki dan perempuan. Tapi, sementara kita memperingati Kartini berulang kali, masih saja terlihat penindasan terhadap kaum perempuan di mana-mana.
Bulan April merupakan tanggal yang sangat berarti, terutama bagi yang bergiat dengan isu-isu keperempuanan. Tanggal 21 April Kartini lahir; sosok pejuang nasional perempuan yang tak kenal lelah menyuarakan isu-isu perempuan. Mengenang Kartini berarti mengenang perjuangan sesosok perempuan lokal melawan tirani budaya yang feodalistis dan hegemonis. Mengenang Kartini juga mengingatkan sejumput cita kesetaraan laki-laki dan perempuan. Mengenang Kartini juga mengingatkan pentingnya pendidikan bagi sebuah bangsa.
Tapi, sementara kita memperingati Kartini berulang kali, masih saja terlihat penindasan terhadap kaum perempuan. Kekerasan terhadap tenaga kerja wanita (TKW) merajalela. Mereka tak jarang ter(di)bunuh di rantau orang. Pendidikan kian mahal, hingga banyak yang tak mampu bersekolah. Pendidikan dikomodifikasi dan menjadi lokus penjajahan baru. Budaya dan mental penjajah masih bercokol dalam hati para pejabat pemerintah kita. Hutang luar negeri kian menumpuk. Inikah yang diharapkan Kartini? Dan apakah ini pertanda reduksi besar-besaran terhadap gagasan Kartini, sulit memastikannya.
Namun dalam pelbagai peringatan tentangnya, Kartini seringkali disajikan sebagai teladan resmi, bukan karena apa yang dikatakannya melainkan apa yang dikatakan orang mengenai dirinya. Pramoedya Ananta Toer dalam pengantar buku Panggil Aku Kartini Saja menulis: “Sampai sedemikian jauh, Kartini disebut-sebut di berbagai peringatan lebih banyak sebagai tokoh mitos, bukan sebagai manusia biasa, yang sudah tentu mengurangi kebesaran manusia Kartini itu sendiri serta menempatkannya dalam dunia dewa-dewa. Tambah kurang pengetahuan orang tentangnya, tambah kuat kedudukannya sebagai tokoh mitos. Gambaran orang tentangnya dengan sendirinya lantas menjadi palsu, karena kebenaran tidak dibutuhkan, orang hanya menikmati candu mitos. Padahal Kartini sebenarnya jauh lebih agung dari pada total jendral mitos-mitos tentangnya.” selengkapnya... http://islamlib.com/id/artikel/teks-itu-bernama-kartini/
Kartini dan Kesejahteraan Bangsa
Oleh DA Simanjuntak
Kartini, sang perempuan Jepara hanyanmampu meratapi nasibnya melalui tulisan. Namun, ratapan Kartini tersebut dijadikan inspirasi bagi kebangkitan perempuan Indonesia. Agaknya, banyak perempuan Indonesia yang lebih hebat dari Kartini. Mereka tidak tertindas oleh dominasi kaum laki-laki dan pasungan budaya, sebut saja Cut Nyak Dien perempuan pejuang dari Aceh yang dengan gagah berani memimpin para pejuang Aceh yang didominasi oleh laki-laki untuk melawan penjajah, belanda atau kapekape sebutan orang Aceh untuk para penjajah tersebut. Saya memberanikan diri untuk menduga, mungkin karena perempuan Indonesia dulu sampai sekarang adalah manusia-manusia yang mampu menahan penderitaan yang teramat perih, mampu bertahan demi cinta, rela menderita, demi kehormatan, ikhlas terpasung demi pengabdian dan berbagai alasan lain yang menggambarkan kemampuan dan kerelaan perempuan untuk bertahan akan himpitan penderitaan. Sehingga, cita-cita Kartini agar perempuan Indonesia mampu menjadi perempuan yang mandiri dan tidak terpasung oleh budaya yang membatasi gerak kaumnya dianggap sebagai pikiran dan cita-cita mulia untuk kemajuan perempuan, padahal Kartini sendiri tidak mampu melawan pasungan budaya dan sama sekali tidak melakukan perlawanan terhadap pasungan tersebut. Ratapan melalui tulisan adalah ungkapan penderitaan yang dialami oleh Kartini, dia bertahan. Namun, tak mampu mendorong perlawanan. Penderitaan Kartini, menggambarkan wajah perempuan Indonesia. Sehingga bangsa ini lebih senang merayakan kelahiran Kartini bukan kelahiran Cut Nyak Dien atau perempuan-perempuan hebat lain.
Daya tahan yang kuat terhadap berbagai himpitan penderitaan adalah potensi bagi pembangunan, bukan kelemahan. Selama, daya tahan tersebut diimbangi peningkatan kualitas perempuan melalui pendidikan, sehingga mereka menjadi kaum yang memiliki kreatifitas tinggi. Kualitas pendidikan perempuan yang lebih baik akan menciptakan perempuan-perempuan Indonesia yang mandiri secara ekonomi dan akan mengurangi ketergantungan terhadap laki-laki. Pendidikan yang berkualitas pula yang akan mendorong perempuan untuk berani meruntuhkan konstruksi budaya patriarki yang eksis di Indonesia. Berikut beberapa hipotesis saya terhadap peran perempuan untuk kesejahteraan bangsa.
Peran Domestik, dan Publik Sekaligus Peran domestik yang sering digunakan untuk istilah peran perempuan dalam rumah tangga, sebagai ibu. Peran ibu adalah pilihan yang paling terhormat dan paling dominan mempengaruhi kesejahteraan. Peran ibu adalah fungsional, bukan struktural atau deferensiasi antara laki-laki dan perempuan secara gender. Pernyataaan Nabi Muhammad Saw yang menyebut nama ibu sampai tiga kali dan baru bapak sebagai orang yang harus kita hormati dan sayangi adalah pernyataan fungsional. Ibu merupakan sebutan bagi mereka yang mendedikasikan dirinya untuk merawat, melindungi, mengasihi dan mencintai sepenuh hati anak-anaknya melebihi cintanya kepada dirinya sendiri, bukan bagi mereka yang hanya sekedar melahirkan. Banyak laki-laki akan bersedia menggantikan perempuan untuk melahirkan apabila takdir Tuhan menghendaki laki-laki untuk melahirkan. Jadi, perempuan-perempuan yang mencampakkan anak-anaknya, bahkan membunuh anak-anaknya, mengabaikan perawatan, perlindungan dan kasih sayang terhadap anak-anaknya tidak pantas menyandang predikat atau panggilan ibu. Perempuan yang berpendidikan dan memilih menjadi ibu adalah modal besar bagi pembangunan menuju kesejahteraan. Dalam Artikelnya, Daoed Yoesoef, mantan Menteri Pendidikan Nasional masa Orde Baru mengutip hasil penelitian Decensheet seorang guru dari Amerika Serikat yang melakukan pengamatan terhadap fenomena pembangunan Jepang, Daoed mengesplorasi bagaimana Kyoku Mama atau kasih mama menjadi salah satu variabel penting bagi kebangkitan Jepang dari keterpurukan paska kekalahan dalam perang dunia kedua. Disiplin yang ketat dan kerja keras yang menjadi ciri manusia Jepang merupakan hasil karya Kyoku Mama. Tradisi patriaki yang kuat, dengan dominasi peran laki-laki yang keras merupakan wajah kebudayaan Jepang, nyaris seragam dengan karakter perempuan Indonesia yang mampu menahan penderitaan, dengan tetap manut terhadap kehendak budaya yang didominasi oleh laki-laki. Seiring dengan perkembangan zaman, Jepang sadar betul dengan pentingnya peran perempuan sebagai pencetak generasi baru bagi pembangunan Jepang.
Maka perempuan Jepang, menurut Decensheet mulai memperoleh pendidikan yang layak dan berkualitas. Seiring dengan meningkatnya pendidikan perempuan Jepang. Ternyata, bukan justru menggerus peran mereka sebagai ibu, malah fungsi perempuan Jepang sebagai ibu semakin termaksimalkan. Bekal pendidikan yang baik dijadikan alat untuk mengajarkan nilai-nilai disiplin dan kerja keras kepada anak-anak Jepang. Jadilah, anak-anak Jepang dibimbing dan diarahkan oleh ibu-ibu yang memiliki dedikasi dan pengetahuan layak untuk mengajarkan anak-anaknya. Di rumah anak-anak Jepang diajarkan berbagai nilai-nilai kultur kedisiplinan, kejujuran, dan kerja keras sedangkan di Sekolah mereka murni melakukan kegiatan akademik; belajar ilmu pengetahuan dan teknologi. Dengan bekal pendidikan pula mereka juga membantu ekonomi keluarga. Biasanya perempuan Jepang yang memiliki anak memilih bekerja Part time, pagi sekali mereka bersiap untuk menyediakan keperluan suami dan anak-anaknya, setelah suami dan anak-anaknya berangkat bekerja dan sekolah, mereka pun berangkat bekerja, sebelum anak-anak dan suami pulang kerumah mereka sudah ada lagi dirumah untuk mengecek tugas-tugas sekolah yang harus dikerjakan oleh anak-anaknya dan mengajarkan berbagai nilai kedisiplinan dan budaya baik lain. Perempuan Jepang dengan Kyoku Mamanya memberikan kontribusi besar bagi terciptanya manusia-manusia maju Jepang, dengan kata lain peran domestik perempuan Jepang dengan menjadi ibu yang baik dan berkualitas membuat perempuan Jepang juga melakukan peran publik sekaligus, karena anak-anak yang mereka didik akan memberikan kontribusi bagi pembangunan dan
kesejahteraan, demikian pula dengan suami mereka. Kartini-Kartini Hebat Political Will dari pemerintah untuk memaksimalkan pendidikan dan kesehatan yang berkualitas bagi perempuan Indonesia. Agaknya, akan memberikan efek domino bagi kualitas manusia Indonesia secara keseluruhan. Kenyataannya, perempuan Indonesia adalah manusia-manusia yang mampu bertahan dalam berbagai kesulitan dalam kondisi knstruksi budaya yang nyaris sama dengan Jepang yakni patriarki. Seringkali perempuan Indonesia mampu menjadi tumpuan ekonomi keluarga. Mereka bekerja keras ketika menjadi ibu, dan mereka juga bekerja keras ketika menjadi tumpuan ekonomi keluarga. Mereka totalitas.
Belajar dari Muhammad Yunus, peraih Nobel Perdamaian tahun 2006 bersama Grameen Bank. Yunus dengan jeli, melihat potensi yang oleh Nietzche disebut sebagai kemauan akan kekuatan dalam diri perempuan miskin Bangladesh. Perempuan Indonesia memiliki potensi yang sama, tinggal bagaimana kesadaran pemerintah untuk membuka akses pendidikan dan ekonomi untuk mereka. Kombinasi pendidikan dan potensi perempuan Indonesia tersebut akan mampu menciptakan the miracle of Indonesia dalam jangka panjang, dimana kesejahteraan bukan lagi sekedar impian. Kebijakan pendidikan yang pro-perempuan, tidak berimplikasi parsial terhadap kualitas perempuanan sich. Namun, memberikan dampak luas bagi pembangunan Indonesia secara keseluruhan. Kartini Indonesia yang berpendidikan, akan menjadi ibu yang akan menciptakan anak-anak negeri yang berkualitas. Kartini Indonesia yang berpendidikan akan menjadi pemimpin-pemimpin yang peka terhadap kesusahan dan penderitaan rakyat, tidak sekedar Melankolis. Kartini Indonesia yang berpendidikan akan mampu memberikan perubahan untuk kesejahteraan, apapun pilihan peran yang akan mereka lakukan. Selamat Berjuang Kartini-ku.
Museum Kamar Pengabadian R.A.Kartini
Obyek wisata Musium Kamar Pengabadian R.A.Kartini berada di Desa Kuthoharjo Kecamatan Rembang jarak 300 M dari pusat kota Rembang yang menempati salah satu ruangan Rumah Dinas Bupati Kepala Daerah Tk II Rembang. Untuk menuju ke musium sangatlah mudah dijangkau dengan kendaraan umum.
Taman Rekreasi Pantai Kartini
Obyek wisata Taman Rekreasi Pantai Kartini; berada di desa Tasik Agung, Kecamatan Rembang. Jarak dari pusat kota Rembang ± 500 M dan mudah dijangkau dengan kendaraan umum, Obyek wisata ini mempunyai nilai sejarah, Konon Pantai di obyek wisata tersebut, dipergunakan untuk upacara sedekah laut, sedangkan tujuannya agar para nelayan mendapat keselamatan dan mendapatkan hasil perolehan ikan yang banyak. Namun sekarang nelayan telah menyelenggarakan upacara tradisi itu di masing-masing desanya. Adapun di Obyek wisata Taman Rekreasi Pantai Kartini tersebut setiap setahun sekali masih dilaksanakan upacara tradisi yakni Lomban atau yang disebut dengan syawalan, dimana para wisatawan baik wisatawan nusantara maupun mancanegara datang pada saat acara tersebut diselenggarakan yaitu pada hari ke-5 setelah Hari Raya Idul Fitri. Biasanya kegiatan yang dilakukan oleh para wisatawan beramai-ramai bersama keluarga naik perahu menuju pulau Marongan yang konon juga bersejarah.Agar para wisatawan dapat memperoleh kenangan setelah pulang di daerah tempat tinggal masing-masing, maka setiap hari besar atau dua kali dalam satu bulan pada hari Minggu di Obyek wisata tersebut di gelar pentas seni kesenian Daerah, dan para wisatawan juga dapat menikmati makanan khas daerah Rembang yang tersedia pada saat itu Cindera mata khas Rembang yang perolehannya dari benda-benda laut dengan bentuk dan motif yang bagus juga tersedia di sana.
Jangkar Dampu Awang
Jangkar Dampu Awang berukuran : panjang 4 M, panjang mata jangkar 2,5 M, berada di Obyek Wisata Taman Rekreasi Pantai Kartini, dimana jangkar ini konon sampai terdampar di Rembang akibat persengketaan antara Sunan Bonang dengan Dampu Awang, sehingga perahu Dampu Awang hancur sedangkan layarnya tertinggal di Bonang - Lasem, adapun jangkarnya tertinggal di Rembang. Jangkar yang mempunyai nilai sejarah ini dianggap keramat karena tidak ada yang dapat memindahkan selain dengah kekuatan Tuhan Yang Maha Esa. Ada juga yang berhasil dengan perantara jangkar tersebut penyakit yang diderita bisa sembuh, itulah keajaiban yang diberikan oleh Allah.
Banyu Kuwung Obyek Wisata
Banyu Kuwung terletak di desa Sudo Kecamatan Sulang ± 7,5 Km ke arah selatan kota Rembang. Obyek Wisata Banyu Kuwung ini banyak dikunjungi oleh para wisatawan karena selain pemandangannya yang indah juga tersedia fasilitas air yang bersih dan melimpah bagi yang hoby memancing sangatlah tepat untuk berkunjung di sana, karena sambil berimajinasi bisa mendapatkan ikan sambi bersantai bersama keluarga untuk menghirup udara yang segar dan suasana yang nyaman pula.
Makam R.A Kartini R.A.
Kartini wafat pada tahun 1904 dan dimakamkan di desa Bulu Kecamatan Bulu, terletak 17,5 Km ke arah
Wana Wisata Kartini Mantingan
Obyek Wisata ini berlokasi di desa Mantingan, Kecamatan Bulu terletak 22 Km dari kota Rembang dan mudah dijangkau dengan kendaraan umum yakni Rembang Blora. Bumi perkemahan yang teduh karena
Rimba Pasucen
Obyek wisata yang berlokasi di desa Pasucen, Kecamatan Gunem ini terletak ± 30 Km dari kota Rembang. ± 7 km sebelah timur bumi perkemahan Mantingan. Untuk menuju lokasi tersebut lewat Bulu, karena Obyek Wisata ini sangat potensial namun masih diperlukan sarana yang menunjang terutama fasilitas transportasi.
Untuk menuju lokasi Obyek, jalan masih berbatu dan harus melewati kawasan hutan sepanjang ± 10 Km Obyek wisata ini sangat bersejarah hal ini terbukti dengan adanya 3 macam Goa yakni Goa Pajangan, Goa Joglo dan Goa J-gong yang konon sebagai tempat persembunyian Blancak Ngilo yang memusuhi Sunan Bonang dan juga terdapat air bersih yang konon ceritanya bekas tancapan tongkat Sunan Bonang. Bagi wisatawan yang ingin memperoleh cerita lebih jelas dan melihat langsung peninggalan-peninggalan yang bersejarah segeralah kunjungi Obyek Wisata Rimba Pasucen ini.
Petilasan Sunan Bonang
Obyek Wisata ini berada di desa Bonang, Kecamatan Lasem ± 17 Km dari Rembang dan mudah dijangkau dengan kendaraan umum. Obyek wisata yang mempunyai nilai budaya tradisional dan aspek
Embung Lodan
Embung Lodan terletak di desa Lodan Wetan Kecamatan Sarang Kabupaten Rembang tempatnya ± 4 Km sebelah timur dari Sedan. Jarak dari kota Rembang ± 40 km. Embung Lodan saat ini masih dimanfaatkan sebagai irigasi dan penyediaan air bersih oleh masyarakat Sedan dan Sarang, juga sebagai pengembangan budidaya perikanan air tawar. Untuk pengembangan Obyek Wisata pemancingan dan wisata bahari dengan latar belakang perbukitan dan hutan jati serta mahoni wilayah Perum Perhutani KPH Kebon Harjo. Panorama yang indah sangat memungkinkan pengembangan obyek wisata terutama untuk bersantai bersama keluarga.
Hutan Wisata Sumber Semen
Obyek Wisata hutan wisata Sumber semen berada di desa Gading Kecamatan Sale, terletak ± 49 Km sebelah tenggara dari Rembang. Obyek wisata ini sangatlah tepat untuk berekreasi bersama keluarga karena pemandangar alamnya yang indah, sejuk dengan hutan lindung yang masih alam dan masih dihuni oleh binatang Kera yang sangat lucu. Konor binatang kera itu ada sejarahnya. Selain itu ada pula sebuah Goa yang ada nilai Historisnya yakni Goa Rambut, cerita Goa Rambut ini pengunjung akan mengetahui secara lengkap dan puas apabila datang langsung di Obyek Wisata Hutan wisata Sumber Semen ini. Sambil berkemah wisatawan juga dapat menikmati fasilitas air bersih dan kolam renang juga disediakan di sana.
Makanan & Minuman Khas Daerah
Hotel & Restaurant:
Tidak ada komentar:
Posting Komentar